BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengembangan terbaru dalam sistem transmisi
otomatis diantaranya Automated Transmissions (AT), yaitu sistem
transmisi otomatis yang menggabungkan fitur terbaik manual dan transmisi
otomatis. Prinsip AT adalah menggabungkan fluida torque converter dengan
planetary gearset sehingga dapat mengontrol pergeseran dari planet gigi dengan
sistem kontrol otomatis hidrolis. Fluid torque converter terpasang pada crankshaft
mesin yang berfungsi sebagai flywheel. Rancangan tersebut sebagai
penggerak mesin, dimana daya mesin ditranfer ke converter melalui poros
penggerak output converter (turbin) seperti gambar di bawah ini.
Kecepatan diperoleh dari perpindahan titik
kopel melalui perpindahan gearshifts yang dikendalikan. Penguna memiliki
kontrol hanya sebagian di drive D-posisi, karena transmisi di drive D-posisi
yang bergeser ke planetary gearset gears tinggi untuk mencegah mesin overspeeding
berapapun posisi bukaan throttle. Kelebihan dari AT adalah
pengoperasiannya relative lebih sederhana, Gigi seleksi awal dikendalikan
melalui tuas pemilih, namun di drive (D atau DR), pergeseran dari kecepatan
rendah (L) dan kembali ke drive dikendalikan secara otomatis diperoleh dari
kecepatan mesin. Kelemahan dari AT selalu memerlukan alat pendukung yang lain
seperti planetary gear set, dan fluid coupling, selain itu biaya
tinggi untuk perawatan.


Gambar.Automatic Transmission
B. Tujuan Penulisan
Tujuan
dalam penulisan makalah ini untuk menambah pengetahuan kita tentang automatic
transmission
atau Transmisi Otomatis. Oleh karena itu makalah ini di buat untuk menambah
pengetahuan kita agar lebih luas tentang automatic
transmission
atau Transmisi Otomatis yang sekarang sudah banyak di pakai pada mobil modern.
C. Perumusan Masalah
- Macam Macam Transmisi Otomatis.
- Type Transmisi Otomatis Pada Mobil.
- Komponen Dan Fungsinya Transmisi Otomatis Pada Mobil.
- Cara Kerja Transmisi Otomatis.
- Tips Perawatan Transmisi Otomatis.
- Kelebihan Menggunakan Transmisi Otomatis.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Macam Macam Transmisi Otomatis
- Transmisi Otomatis Full Hidrolik Kontrol
Transmisi Otomatis full hidrolik kontrol adalah
transmisi otomatis yang bekerja berdasarkan tekanan dan pengaturan oli ATF yang
dila-kukan oleh unit hidrolik.
Pada unit hirolik dilengkapi de-ngan katup-katup
hidrolik yang ber-fungsi mengatur tekanan oli ATF ber-dasarkan dari tekanan
kontrol yang diatur oleh governor sentrifugal yang terpasang pada poros output,
dan juga dari tekanan kontrol yang diatur melalui pedal gas seirama dengan
bukaan katup gas.
Pada sistem ini, sistim elektrik yang ada hanya
dipakai untuk indi-kator posisi tuas pemindah, tidak ada hubungan langsung
dengan proses pemindahan tingkatan gigi perce-patan.

Gambar.Governor sentrifugal
- Transmisi Otomatis Dengan Kontrol Elektronik
Pada transmisi otomatis dengan kontrol elektronik perpindahan tinkat gigi
percepatan dikontrol secara elektronik dengan jalan mengen-dalikan katup-katup
solenoid oleh unit kontrol elektronika berdasarkan dari sinyal-sinyal masukan
yang diberikan oleh sensor-sensor yang ada.

Gambar.Skema kontrol
Dengan melibatkan sensor-sen-sor yang ada dapat diatur tinkatan gigi
percepatan yang paling sesuai dengan kondisi yang dihadapi, se-hingga tidak
kehilangan perfor-mennya dan tetap pada penggunaan bahan bakar yang optimal.
Pemgendalian katup solenoid pada dasarnya adalah untuk menga-rahkan oli ATF
ke unit hidrolik, jadi disini bukan sistem elektrik yang melakukan perubahan
tingkatan gigi tetapi dibantu oleh tekanan hidrolik dari oli ATF. Sistem
elektronik hanya sebagai pengendali saja.

Gambar.Katup solenoid
Pada sistem yang dikendalikan secara elektronik dapat dilakukan
pengendalian yang lebih selektif dan dapat pula dilakukan
pengendalian-pengendalian tambahan seperti mode ekonomi dan sport serta dapat
diken-dalikan seperti transmisi manual se-suai keinginan pengemudi dengan
adanya tombol + dan - .

Gambar.Karateristik
fungsi tambahan tombol sport

Gambar.Tuas
pemindah dengan tombol + dan –
B. Type Transmisi Otomatis Pada Mobil
Transmisi yang dipakai pada
kendaraan mesin depan penggerak depan (front engine, front wheel drive
(FF)) di buat lebih kecil dan efisien dibandingkan dengan transmisi yang
dipakai pada mesin depan penggerak roda belakang (front engine, rear drive (FR))
karena langsung dihubungkan dengan mesin tanpa melewati poros propeller
atau transmisi jenis ini disebut sebagai transaxle.

Gambar
1. Transmisi otomatis tipe front engine, front wheel drive (FF)
dan front engine, rear drive (FR)
dan front engine, rear drive (FR)
Differensial pada transaxle menjadi satu
dengan mekanisme pemindah tenaga yang lain berbeda dengan transmisi untuk
penggerak roda belakang yang differensialnya terpisah dengan mekanisme yang
lain.
Pada prinsipnya, kedua jenis
transmisi tersebut mempunyai cara kerja yang sama baik unutk penggerak roda
depan maupun untuk penggerak roda belakang.
Komponen
|
Fungsi
|
O/D clutch
|
.Menghubungkan/memutuskan putaran O/D carrier
dan O/D sun gear.
|
O/D Brake
|
.Menahan supaya O/D sun gear tidak berputar.
|
O/D one way clutch
|
.Menghubungkan O/D carrier dan O/D sun gear
ketika diputar mesin.
|
Forward Clutch
|
.Menghubungkan / memutuskan input shaft
dengan intermediate shaft.
|
Direct Clutch
|
.Menghubungkan / memutuskan input shaft
dengan front dan rear sun gear.
|
2nd Coast Brake
|
.Menahan / mengunci front dan rear sun
gear supaya tidak berputar.
|
2nd Brake
|
.Menahan one way clutch 1 supaya front dan
rear sun gear berputar berlawanan arah jarum jam.
|
Reverse Brake
|
.Menahan putaran front planetary carrier.
|
One way clutch 1
|
.Menahan front dan rear sun gear supaya tidak
berputar berlawanan jarum jam ketika 2nd brake bekerja.
|
One way clutch 1
|
.Menahan supaya front planetary carrier
berputar berlawanan jarum jam.
|

Gambar 6. One way clutch

Gambar 7. Potongan planetary gear dan clutch
Perpindahan gigi secara otomatis sesuai dengan posisi tuas, terdapat 6
posisi yaitu, posisi P, R, N, D, 2 dan L. sedangkan untuk Over Drive (O/D)
menggunakan switch yang ada pada tuas transmisi, demikian pula untuk
meningkatkan performa kerja transmisi khususnya waktu perpindahan gigi terdapat
2 posisi switch yang ditempatkan di console box, yaitu Power
dan Normal (P/N) mode.

Gambar 9. Tuas transmisi otomatis
Posisi
tuas transmisi sebagai berikut :
- Posisi P (Park)
Pada posisi ini kendaraan tidak dapat bergerak
(roda tidak dapat diputar) tetapi mesin dapat dihidupkan.Posisi ini digunakan
untuk kendaraan yang diparkir, atau pada kendaraan untuk keperluan mesin
dihidupkan tetapi kendaraan tidak dijalankan.
- Posisi R (Reverse)
Posisi ini jadi digunakan untuk menggerakan
kendaraan mundur.
- Posisi N (Netral)
Pada posisi ini kendaraan tidak bergerak tetapi
roda dapat diputar dan mesin dapat dihidupkan. Hanya posisi N dan P mesin dapat
dihidupkan, posisi N transmisi pada posisi netral, biasanya digunakan
untuk menghidupkan mesin sebelum kendaraan dijalankan atau ketika kendaraan
berhenti sementara mesin hidup, seperti menunggu lampu hijau menyala di
perempatan jalan.
- Posisi D (Drive)
Posisi D, digunakan untuk menggerakkan
kendaraan bergerak maju secara otomatis dan dapat mengatur posisi kerja dari
gigi 1, 2 dan 3, atau sebaliknya, jika switch O/D di-posisikan ON,
transmisi secara otomatis dapat mengatur kerja dari gigi 1, 2, 3 dan 4 atau
sebaliknya. Posisi ini biasanya digunakan untuk jalan normal dan rata.
- Posisi 2
Posisi ini digunakan untuk menggerakan
kendaraan bergerak maju, tetapi secara otomatis hanya dapat mengatur posisi
kerja dari gigi 1 ke gigi 2 atau sebaliknya, biasanya digunakan untuk jalanan
menanjak atau turunan tajam.
- Posisi L
Posisi ini digunakan untuk menggerakan
kendaraan bergerak maju tetapi hanya pada posisi gigi 1 saja, biasanya
digunakan untuk jalanan yang sangat menanjak atau turunan yang sangat tajam
yang tidak dapat dilakukan pada posisi gigi 2.

Gambar.Bagian utama dari transmisi otomatis
Transmisi otomatis secara garis besar di bagi menjadi 3 bagian yaitu:
1.Torque Converter

Gambar.potongan dari Torque converter
Torque converter di pasang pada input shaft dari
transmisi otomatis. Pada bagian ini juga terdapat ring gear yang
berfungsi sebagai gigi yang berhubungan dengan drive pinion motor starter
untuk menghidupkan mesin.
Fungsi
dari torque converter adalah :
a.
Melipatgandakan momen yang dihasilkan oleh mesin
b.Menjadi
kopling otomatis yang mengirimkan momen mesin menuju ketransmisi
c.
Menyerap getaran mesin
d.
Melembutkan putaran mesin
e.
Sebagai pompa oli ke hidraulic control system
Torque converter berisi minyak transmisi otomatis dan
mengirimkan tenaga putar dari mesin menuju ke transmisi. Komponen utama dari torque
conveter adalah pump impeller, turbine runner, dan stator.
Bagian ini juga dihubungkan langsung dengan pompa oli yang selalu
menghasilkan tekanan yang di pakai pada hidraulic control unit pada saat
mesin dihidupkan. Pada saat kendaraan di derek dan roda yang berhubungan dengan
drive axle, output shaft dan intermediate shaft serta
bearing tidak terdapat pelumasan. Hal ini sangat berbahaya jika kendaraan
di derek pada jarak yang jauh atau pada kecepatan yang cukup tinggi.
Lock up mechanism
Torque converter tidak selamanya menyalurkan tenaga putar ke
transmisi dengan perbandingan 1 : 1, tapi ada sebagian kecil tenaga yaitu
sekitar 4 - 5 % yang hilang. Hal ini tentunya sangat merugikan karena akan
mengakibatkan pemborosan bahan bakar. Untuk menghindari hal tersebut di buat
mekanisme lock up mechanism yang akan mengunci torquer converter ketika
kendaraan berjalan pada kecepatan 37 mph atau 60 km/jam atau lebih tinggi.
Ketika mekanisme ini bekerja maka tenaga putar dari mesin akan di salurkan 100
% menuju ke transmisi.

Gambar.Lock up mechanism
2.Planetary gear unit
Planetary gear unit dipakai untuk menaikan dan menurunkan momen
mesin, menaikan dan menurunkan kecepatan kendaraan, di pakai untuk memundurkan
kendaraan dan dipakai untuk bergerak maju. Pada dasarnya planetary gearunit
dipakai mesin untuk menghasilkan tenaga dan menggerakan kendaraan dengan beban
yang berat dengan tenaga yang ringan.
Hubungan
antara kecepatan dan momen mesin dapat di jelaskan sebagai berikut:
Pada saat kendaraan berhenti dan mau berjalan dibutuhkan momen yang besar,
dan pada posisi ini dibutuhkan gigi yang rendah untuk menggerakan kendaraan.
Akan tetapi pada kecepatan yang tinggi maka akan dibutuhkan gigi yang tinggi
dan momen yang kecil untuk menjaga laju kendaraan.
Berikut
ini adalah bagian-bagian dari planetary gear unit :

Gambar.Planetary gear unit
Planetary gear memiliki tiga tipe gigi cincin, gigi pinion,
sun gear dan planetary carrier.
Planetary carrier dihubungkan dengan poros tengah tiap gigi pinion dan membuat gigi pinion
berputar. Gigi-gigi pada planetary carrierberhubungan satu sama lainnya.
Gigi pinion mempunyai prinsip kerja menyerupai planet yang berputar di sekeliling
matahari. Oleh karena itu, disebut planetary carrier. Biasanya, planetary
carrierdikombinasikan dalam unit planetary carrier.
Penggantian
input pada planetary carrier, output, dan elemen tetap,
memungkinkan untuk deselerasi, mundur, hubungan langsung dan akselerasi.
3.Hydraulic control
unit
Bagian ini
mengontrol kerja dari rem dan koling pada transmisi otomatis dengan tekanan
yang diperoleh dari pompa oli. Unit pengendali hidrolik mempunyai 3 fungsi
yaitu sebagai berikut:
1.Untuk membangkitkan/mengahasilkan tekanan
hidrolik
Pompa oli mempunyai fungsi
membangkitkan tekanan hidrolik. Pompa oli membangkitkan tekanan hidrolik yang
diperlukan untuk pengoperasian transaxle otomatis dengan menggerakkan
tempat/kotak pengubah tenaga putar (mesin).
2. Menyesuaikan tekanan hidrolik
Tekanan hidrolik yang ditekan oleh pompa oli disesuaikan dengan pentil
pengatur utama. Juga pentil katup penghambat menghasilkan tekanan hidrolik yang
sesuai dengan output mesin
3.
Mengalihkan
(shift) roda gigi (untuk mengoperasikan kopling dan rem)
Ketika operasi kopling dan rem pada unit roda gigi planetary dialihkan
(switch), roda gigi dialihkan. Jalur cairan diciptakan sesuai dengan posisi
shift oleh pentil manual. Ketika kecepatan lendaraan meningkat, signal
sikirimkan ke pentil solenoid dari mesin & ECT ECU (Electronic Control
Unit). Pentil solenoid mengoperasikan setiap pentil shift ke pemindahan
(shifting) roda gigi
Komponen-komponen
utama dari unit kontrol hidrolik adalah sebagai berikut:
Ø
Pompa oli
Ø
Valve body
Ø
Primary
regulator valve
Ø
Manual
valve
Ø
Solenoid
valve
Ø
Throttle
valve

Gambar.Pompa oli

Gambar.potongan hydraulic control unit
Automatic Transmision Fluid
Minyak transmisi otomatis mempunyai kualitas yang tinggi dengan berbagai
macam bahan tambah. Minyak transmisi otomatis ini di kontrol oleh katup
hidrolik melalui transmisi ke gear shift dan melumasi komponen yang berputar
dari transmisi otomatis.
Minyak
transmisi otomatis harus memenuhi syarat-syarat sebagi berikut:
Ø
kekentalan
yang sesuai
Ø
stabil
terhadap panas dan oksidasi
Ø
tidak
berbusa
Ø
koefisien
gesek yang sesuai
Ø
berwarna
Ø
mempunyai
bahan tambah yang lain
Minyak transmisi otomatis (ATF) mempunyai macam-macam viskositas dan koefisien
geseknya. Hal ini perlu diketahui karena pengunaan miyka transmisi otomatis
bisa berbeda tiap tipe kendaraan. Penggunaan miyak transmisi otomatis yang
tidak benar tidak hanya menurunkan tenaga, tetapi juga bisa menyebabkan bunyi
serta kerusakan yang lain.
Perhatikan
Buku pedoman reparasi untuk mengetahui jenis minyak pelumas yang digunakan pada
kendaraan.
D. Cara Kerja Transmisi Otomatis

blok
diagramnya:
Poros Engkol >> Torque Converter >> Planetary Gear >>
[Differential >> Drive Shaft >> Roda] pada penggerak roda belakang,
bagian didalam kurung kotak diganti (As Kopel>>
Gardan/Differential>>Roda)
1. Torque converter menggantikan
kopling mekanikal pada transmisi manual. Lewat torque converter ini torsi
disalurkan dengan mekanisme pompa dan turbin. Didalam torque converter terdapat
3 buah baling-baling. Yang pertama bekerja sebagai pompa yang dikopel langsung
dengan mesin. Yang kedua "turbin" dikopel langsung dengan planetray
gear. Dan yang terakhir adalah stator. Cara kerjanya, baling-baling yang
terkopel pada mesin berputar untuk memompakan Oli transmisi didalam sebuah
ruang tertutup. Lalu tekanan oli tersebut mendorong turbin layaknya air
bertekanan yang menggerakkan pembangkit listrik tenaga air.
Konsep
sederhananya, anda menyalakan sebuah kipas angin lalu tepat didepannya anda
letakkan kipas angin yang lain dalam keadaan mati. Maka kipas angin yang mati
tadi akan berputar seiring meningkatnya tekanan udara dari kipas angin yang
menyala. Dari sistem tersebut, didapatkan peningkatan torsi pada turbin saat
RPM pada mesin meningkat. Karena itulah perlengkapan ini disebut torque
converter. Karena dia merubah putaran tinggi pada mesin menjadi torsi saat
dibutuhkan. Namun alat ini jugalah yang menyebabkan konsumsi bahan bakar pada
mobil matik meningkat.
Karena
pompa dan turbin tidak akan pernah berputar 1:1 saat berbeban. Oleh karena itu,
pada pengembangannya di aplikasikan perangkat "lock up" yang akan
mengunci pompa dan turbin secara mekanis untuk mendapatkan efisiensi saat RPM
tinggi dan overdrive. Lalu fungsi stator? Nah stator adalah pengembangan sistem
dua baling-baling menjadi 3 baling-baling. Dimana baling diantara pompa dan
turbin tidak bergerak. Oleh karena itu dinamakan stator (statis:diam) dan
fungsinya adalah mengoptimalkan arah tekanan oli untuk menggerakkan turbin.
2. Planetary Gear Komponen ini menggantikan gigi-gigi rasio pada transmisi manual untuk merubah rasio putaran turbin terhadap roda. Fungsi utamanya sebetulnya tidaklah berbeda dengan fungsi transmisi manual yang biasa anda ganti-ganti dengan tuas persneling saat menjalankan mobil. Namun desain fisiknya yang berbeda cukup jauh. Pada planetary gear tidak ada dua barisan roda gigi yang saling berhubungan dengan rasio berbeda-beda. Tetapi sebuah roda gigi yang dikelilingi banyak roda gigi kecil dan ruman planetary yang memiliki gigi dibagian dalamnya. Untuk lebih jelas, carilah gambarnya di search engine. Karena cukup sulit menggambarkannya hanya dengan tulisan. Nah, disinilah Valve body bekerja. Valve body mengatur jalannya oli untuk merubah rasio planetary gear secara hidraulis.
Itulah
cara kerja tranmisi yang banyak digunakan pada mobil-mobil yang bersliweran
saat ini. Torque converter menyebabkan mobil serasa berjalan dengan kopling
yang selip. Dan planetary gear menyebabkan mobil seperti memindahkan giginya
secara otomatis.
Untuk transmisi CVT
kehadiran
planetary gear digantikan dengan sabuk dan pulley yang diameter drivingnya
dapat berubah-ubah sehingga rasio putaran dari dua buah pulley tersebut juga
berubah-ubah. Dari sistem CVT yang diaplikasikan pada transmisi tersebut,
didapatkan perpindahan percepatan (rasio) yang sangat halus. Seperti yang anda
rasakan pada motor matic dengan CVT. Namun perubahan rasio CVT pada mobil
tidaklah dilakukan secara mekanikal layaknya sepeda motor. Namun hal itu
dilakukan secara elektro hidrolis yang diatur oleh ECU mobil. Sehingga
perubahan rasio akan berubah sesuai dengan beban mobil, injakan pedal gas,
putaran mesin dan lain sebagainya untuk mendapatkan tenaga yang optimal dan efisiensi
bahan bakar yang tinggi.
Tambahan: untuk lebih mengenal karakteristik transmisi matik, berikut perilaku transmisi matik untuk setiap posisi tuasnya.
P: transmisi akan mengunci komponen yang terkopel langsung dengan roda. Hal ini memberikan efek seperti rem tangan, tetapi jangan hanya mengandalkan posisi ini untuk parkir dengan beban yang cukup berat. ex: tanjakan.
R: Gunakan posisi ini untuk berjalan kearah belakang(mundur).
N: di posisi ini, seluruh hubungan antara roda dan mesin dilepaskan. Dan tidak ada mekanisme pengunci roda layaknya posisi P. catatan: sangat disarankan untuk menggunakan posisi N dan aktifkan rem daripada P jika anda tidak bermaksud berhenti untuk meninggalkan mobil.
D: di gunakan posisi ini untuk menggunakan seluruh rasio dalam transmisi anda selama perjalanan. dibeberapa mobil juga terdapat tatanan D4, D3, L2, L1. Untuk merk toyota biasanya terdapat D,2,1 dengan tombol overdrive off pada tuasnya.
D3 atau O/D off : posisi ini akan membatasi perpindahan rasio hingga
tingkat ke 3. Pada beberapa mobil toyota dengan tombol O/D off, tombol ini menonaktifkan gigi 4 dan menahan transmisi pada
rasio tingkat 3. Gunakan posisi ini untuk melakukan overtakin.
E. Tips Perawatan Transmisi Otomatis
ü
Cara perawatan transmisi otomatis
sebenarnya
tidaklah sulit seperti yang diperkirakan banyak orang. Perawatan transmisi
otomatis yang dilakukan sama dengan perawatan yang dilakukan terhadap transmisi
manual, berupa pengecekan terhadap kualitas minyak transmisi otomatis (hampir
sama dengan minyak rem/Automatic Transmission Fluid dan bukan termasuk oli) dan
kebocoran dari packing-packing yang ada. Malah sebenarnya lebih simple dari
manual.
Namun
kualitas minyak untuk transmisi otomatis ini bila dipergunakan sebagaimana
semestinya dan tidak ada kebocoran, bisa tahan 50 ribu kilometer sampai 100
ribu kilometer. â€Malah sebenarnya
bisa sampai 200 ribu kilometer, jelas Agus Susanto Kepala Bengkel PT Hyundai
Mobil Indonesia.
Ia mengatakan, kopling transmisi otomatis ini lebih efisien karena berdaya tahan lama dari oli transmisi manual. Kopling ini terendam dalam bak minyak transmisi dan tidak bergesekan langsung. Berbeda dengan transmisi manual dengan sistem kopling kering yang bersentuhan dengan “roda gilaâ€.
Ia mengatakan, kopling transmisi otomatis ini lebih efisien karena berdaya tahan lama dari oli transmisi manual. Kopling ini terendam dalam bak minyak transmisi dan tidak bergesekan langsung. Berbeda dengan transmisi manual dengan sistem kopling kering yang bersentuhan dengan “roda gilaâ€.
Kesan
bahwa transmisi otomatis perawatannya sulit dan tidak semua bengkel yang bisa
menanganinya adalah memang benar. Tetapi bukankah kalau kendaraan diperlakukan
dengan benar dalam artian dirawat dengan baik, maka tidaklah mungkin transmisi
akan mengalami kerusakan dengan sendirinya.
“Yang penting kalau kendaraan mengalami mogok dan ketika harus didorong, bagian roda mobil yang digerakkan transmisi tersebut harus diangkat. Tidak boleh menyentuh jalan ketika ditarik, †jelas Kepala Bengkel PT Hyundai Mobil Indonesia tersebut.
“Yang penting kalau kendaraan mengalami mogok dan ketika harus didorong, bagian roda mobil yang digerakkan transmisi tersebut harus diangkat. Tidak boleh menyentuh jalan ketika ditarik, †jelas Kepala Bengkel PT Hyundai Mobil Indonesia tersebut.
Alasannya
adalah, pada sistem transmisi otomatis, putaran mesin tersebut
dipindahkan untuk memutar roda melalui minyak transmisi yang disemprotkan ke
tiap gigi percepatan tersebut. Sedangkan bila ditarik yang terjadi adalah
proses kebalikannya, di mana putaran roda akan menghasilkan tekanan kepada
katup solenoid yang tertutup karena mesin tidak dihidupkan.
“Yang biasanya rusak adalah seal-seal, dan bila sudah parah pompa minyak transmisi tersebut yang akan rusak,†jelas Agus.
“Yang biasanya rusak adalah seal-seal, dan bila sudah parah pompa minyak transmisi tersebut yang akan rusak,†jelas Agus.
Ø
Kerusakan Transmisi Tergantung
Pemakaian :
Namun
cepat atau tidaknya, baik transmisi otomatis maupun manual
tersebut memang tergantung dari pemakaiannya. Bisa saja dari cara
membawanya yang kasar, ataupun kendaraan membawa beban lebih.
Karena
itu setiap pengemudi sewajarnya mengetahui fungsi-fungsi dari tiap huruf dan angka
yang tertera dituas transmisi otomatis tersebut. Misalnya saja
angka 1, berarti diperuntukkan bagi tanjakan dan turunan yang sangat curam.
Kalau dipakai terus untuk jalur yang datar hanya akan memboroskan bahan bakar
saja. Putaran mesin dan kecepatan yang diraih tidak seimbang.
Bila
posisi tuas di 2, sebaiknya digunakan bila menghadapi jalan yang menanjak dan
menurun yang tidak terlalu curam dan jangka waktu yang agak lama. Sedangkan
untuk posisi D ini sama artinya dengan posisi gigi 3, yang diperuntukkan perjalanan
dalam kota atau normal.
Untuk
menghadapi jalur lurus yang dapat ditempuh dalam kecepatan tinggi serta dalam
waktu yang lama dapat mengaktifkan tombol Over Drive (O/D). Gunanya untuk
menurunkan putaran mesin yang otomatis dapat menurunkan konsumsi bahan bakar.
Posisi ini sama saja dengan gigi 4.
Namun
sekarang percepatan transmisi otomatis ini tidak hanya sampai 4 saja, sudah
sampai 5 percepatan. Gigi 1, 2, 3, D dan Over Drive. Posisi lain yang harus
diketahui kegunaannya adalah posisi N, P dan R. Posisi N ini dapat digunakan
ketika berada di lampu merah. Dari posisi D sebaiknya digeser keposisi N.
Sedangkan posisi P ini digunakan ketika memarkirkan kendaraan. R digunakan untuk mundur.
Pada saat ini sebagaian besar produsen
kendaraan mengunakan dan mengembangkan Continuously Variable Transmission
(CVT) dengan ditandai peningkatan kualitas CVT secara terus menerus.
Prinsip kerja CVT adalah memanfaatkan perubahan diameter antara puli
penggerak (driver pulley) dan puli yang digerakkan (driven pulley),
selain melakukan variasi rasio (i) transmisi menjadi dapat tak terbatas.
Sistem ini memiliki beberapa keunggulan desain lebih transmisi otomatis (AT)
yaitu :
- Kontruksi lebih sederhana dan proses manufaktur yang lebih mudah.
- Akselerasi halus tanpa sentakan atau pukulan dari mengubah gears.
- Efisiensi bahan bakar yang lebih baik karena pada CVT tidak adanya daya yang terbuang waktu perpindahan gigi seperti yang terjadi pada transmisi otomatis.
Namun kelemahan sistem CVT dibandingkan AT
yaitu : kemampuan beltnya yang menurun drastis kalau dipakai untuk kendaraan
dengan Daya diatas 135 HP, karena beltnya yang akan mengendur bila terlalu
panas akibat gesekan dalam pemakaian yang lama, sangat tidak cocok untuk
performance car karena tenaga tidak responsif, kalah responsif oleh matic biasa
sekalipun. Pada matic sederhana pada saat di-kickdown langsung turun gigi.
Sistem CVT memilik beberapa type penggerak
ratio yaitu : Variablediameter Pulley (VDP), yaitu
sistem CVT secara sederhana terdapat dua V-belt puli yang tegak lurus untuk
memisahkan antar puli dari axes rotasi, dengan Vsabuk berjalan di antara
mereka. Ratio gear diubah agar bergerak pada dua bagian dari satu puli
penggerak dan dua bagian lainnya dari satu puli digerakan. Belt ratarata
berbentuk V dimana bagian ikat pinggang dibentuk salid (T) agar dapat menahan
tekanan, ini akan menyebabkan sabuk untuk naik lebih kencang sedangkan yang
lain lebih longgar agar dapat melakukan perubahan yang efektif. Jarak antara
pulleys tidak berubah, namum belt mampu mengubah ratio gear sehingga kedua
pulleys harus disesuaikan (satu lebih besar, yang lainnya kecil) sekaligus
untuk mempertahankan jumlah tepat ketegangan pada sabuk, seperti gambar berikut
ini;

Gambar.Continuously Variable Pulley (CVP)
Toroidal atau roller berbasis CVT, dibuat dari disk dan roller yang berfungsi
mentransfer daya antara disk. Disk digambarkan sebagai dua bagian
yang berbentuk kerucut (point-to-point) sehingga sisi disk pada
dua bagian dapat mengisi pusat lubang yang torus. Satu disk sebagai
inputan dan yang kedua adalah output (tidak ada kontak antar
disk). Sistem secara drastis fungsinya berbeda, dengan semua komponen yang
sejalan dengan roda/roller dan system katrol menghasilkan seperti
prinsip CVT.
Berikut adalah cara kerjanya:
Ø
Satu
disk terhubung ke mesin (katrol penggerak)
Ø
Disk
lain terhubung ke batang (kontrol digerakan).
Ø
Rollers atau roda, terletak antara disc
sebagai belt (pada CVP), yang digerakan dengan transmisi listrik
dari satu disk ke yang lain.
Sehingga dapat memutar roda dua sepanjang
sumbu axis dan berputar di sekeliling sumbu horisontal serta
memindahkan daya di luar atau di sekeliling sumbu vertikal, yang
memungkinkan roda kontak dengan disc. Ketika roda berada
dalam kontak dengan disk mengemudi di dekat pusat, mereka harus
menghubungi driven disc dekat rim, sehingga pengurangan kecepatan dan
peningkatan torque. Kontak roda penggerak disk dekat rim maka
harus menghubungi driven disc dekat pusat, sehingga peningkatan
kecepatan dan penurunan torque. Gerakan yang sederhana dari roda, dapat
secara bertahap akan mengubah gear ratio, menjadi rasio perubahan.

Gambar.Continuously Variable
Transmission Toroidal
Hydrostatic CVT adalah salah satu jenis CVT, menggunakan
variabelkapasitas pompa ke bervariasi cairan mengalir masuk hydrostatic aktuator.
Dalam transmisi jenis ini pemutaran gerakan mesin pompa menerapkan sistem
pengerak hydrostatic dimana pompa yang mengkonversi pemutaran gerakan menjadi
aliran cairan. Kemudian, dengan motor hydrostatic terletak di samping
menggerakkan, cairan yang mengalir kemudian dikonvert kembali ke dalam gerakan
pemutaran yang ditunjukkan pada gambar.

Gambar.Continuously Variable
Transmission Hydraulic
Dari permasalahan yang ditimbulkan dari
beberapa CVT maka dalam tesis ini menerangkan sistem terbaru dengan menggunakan
elektrikal atau yang disebut dengan Electrical Continuously Variable
Transmission (ECVT). Sistem diharapkan mampu mengurangi persoalan slip,
pengendalian ratio secara optimal, dan juga untuk memungkinkan
meningkatkannya performance system. ECVT menggunakan suatu penggerak ratio
dengan menekan belt yang diatur oleh elektrik motor untuk
mengendalikan gerakan Fork Push Belt dengan dikombinasikan dengan suatu lead
screw untuk menggerakan mekanisme sehingga Fork Push Belt dapat
mengendalikan ratio puli CVT. Manfaat lain dari sistem ini diharapkan juga
memperbaiki bahan bakar menjadi lebih ekonomi.
Perbaikan sistem ini meliputi terjadi
perubahan akibat pengaruh ratio, slip, dengan efisiensi bahan
bakar untuk meningkatkan torsi/daya pada CVT dari kendaraan yang diteliti.
Dengan meminimalkan kerugian-kerugian dari CVT yang ada sehingga efisiensi
transmisi dan daya mesin yang dihasilkan dapat dicapai.
F. Kelebihan Menggunakan Transmisi
Otomatis
Ada banyak kelebihan pada transmisi otomatik.
- TO memberikan kenyamanan luar biasa mengatasi rasa penat ketika berada dijalan macet. Mobil bisa berjalan mulus walaupun harus maju dan berhenti secara mendadak, karena tak perlu menginjak kopling. Hanya menekan pedal rem atau pedal gas mobil dapat maju dan berhenti dengan mulus. Dengan menggunakan TO pengemudi juga tidak terlalu lelah Selain kaki kiri tidak perlu bekerja maka tangan kiripun tidak selalu digunakan seperi pada transmisi manual.
- Keuntungan lain dari TO adalah awetnya plat kopling. Karena tidak ditekan dengan kaki melaingkan secara otomatik oleh tekanan oli maka umumnya plat koplingbnya lebih lama masa pakai. Kalau tidak ada masalah dengan oli, seperti kehabisan oli atau terlambat mengganti oli maka plat kopling tidak perlu diganti.
- Perpindahan gigi terjadi secara otomatis dan lembut.
- Mengurangi beban mesin karena mesin dan
pemindah daya dihubungkan melalui fluida secara hidraulis (torque
converter).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Cepat atau tidaknya kerusakan pada transmisi otomatis tergantung dari
pemakaiannya sendiri. Mungkin saja berawal dari cara berkendara yang kasar, ataupun kendaraan yang membawa beban lebih. Bila kendaraan diperlakukan dengan benar dan memang seharusnya dirawat dengan baik, maka kecil kemungkinan transmisi akan mengalami kerusakan dengan sendirinya.
pemakaiannya sendiri. Mungkin saja berawal dari cara berkendara yang kasar, ataupun kendaraan yang membawa beban lebih. Bila kendaraan diperlakukan dengan benar dan memang seharusnya dirawat dengan baik, maka kecil kemungkinan transmisi akan mengalami kerusakan dengan sendirinya.
Transmisi otomatis ternyata lebih mudah dalam penggunaan atau
pengoperasiannya. Maka dari itu masyarakat lebih suka menggunakan transmisi
otomatis dari pada transmisi manual
SARAN :
Ø
Kita harus menggali informasi, ilmu pengetahuan
dan teknologi yang ada dan mampu memanfaatkanya dengan sebaik-baiknya dalam
kehidupan sehari-hari untuk memperluas pengetahuan kita.
Ø
Sesuaikan pelumas yang digunakan dengan
spesifikasi yang disyaratkan pabrikan kendaraan tersebut. Biasanya kemasan
pelumas khusus transmisi ditandai dengan tulisan ATF (Automatic Transmission
Fluid).
DAFTAR
PUSTAKA
di akses pada
tgl 27 agustus 2012 jam 10.44WIB
di akses pada
tgl 27 agustus 2012 jam 10.56WIB
di akses pada tgl 27 agustus 2012 jam 11.06WIB
di akses pada tgl 24 agustus 2012 jam 11.07WIB
di akses pada tgl 20 agustus 2012 jam 08.07WIB
di akses pada tgl 22 agustus 2012 jam16.07WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar