Senin, 25 November 2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pengembangan terbaru dalam sistem transmisi otomatis diantaranya Automated Transmissions (AT), yaitu sistem transmisi otomatis yang menggabungkan fitur terbaik manual dan transmisi otomatis. Prinsip AT adalah menggabungkan fluida torque converter dengan planetary gearset sehingga dapat mengontrol pergeseran dari planet gigi dengan sistem kontrol otomatis hidrolis. Fluid torque converter terpasang pada crankshaft mesin yang berfungsi sebagai flywheel. Rancangan tersebut sebagai penggerak mesin, dimana daya mesin ditranfer ke converter melalui poros penggerak output converter (turbin) seperti gambar di bawah ini.
Kecepatan diperoleh dari perpindahan titik kopel melalui perpindahan gearshifts yang dikendalikan. Penguna memiliki kontrol hanya sebagian di drive D-posisi, karena transmisi di drive D-posisi yang bergeser ke planetary gearset gears tinggi untuk mencegah mesin overspeeding berapapun posisi bukaan throttle. Kelebihan dari AT adalah pengoperasiannya relative lebih sederhana, Gigi seleksi awal dikendalikan melalui tuas pemilih, namun di drive (D atau DR), pergeseran dari kecepatan rendah (L) dan kembali ke drive dikendalikan secara otomatis diperoleh dari kecepatan mesin. Kelemahan dari AT selalu memerlukan alat pendukung yang lain seperti planetary gear set, dan fluid coupling, selain itu biaya tinggi untuk perawatan.
Gambar.Automatic Transmission

B. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini untuk menambah pengetahuan kita tentang automatic transmission atau Transmisi Otomatis. Oleh karena itu makalah ini di buat untuk menambah pengetahuan kita agar lebih luas tentang automatic transmission atau Transmisi Otomatis yang sekarang sudah banyak di pakai pada mobil modern.

C. Perumusan Masalah
  1. Macam Macam Transmisi Otomatis.
  2. Type Transmisi Otomatis Pada Mobil.
  3. Komponen Dan Fungsinya Transmisi Otomatis Pada Mobil.
  4. Cara Kerja Transmisi Otomatis.
  5. Tips Perawatan Transmisi Otomatis.
  6. Kelebihan Menggunakan Transmisi Otomatis.


BAB II
KAJIAN TEORI

A. Macam Macam Transmisi Otomatis
  1. Transmisi Otomatis Full Hidrolik Kontrol

Transmisi Otomatis full hidrolik kontrol adalah transmisi otomatis yang bekerja berdasarkan tekanan dan pengaturan oli ATF yang dila-kukan oleh unit hidrolik.
Pada unit hirolik dilengkapi de-ngan katup-katup hidrolik yang ber-fungsi mengatur tekanan oli ATF ber-dasarkan dari tekanan kontrol yang diatur oleh governor sentrifugal yang terpasang pada poros output, dan juga dari tekanan kontrol yang diatur melalui pedal gas seirama dengan bukaan katup gas.
Pada sistem ini, sistim elektrik yang ada hanya dipakai untuk indi-kator posisi tuas pemindah, tidak ada hubungan langsung dengan proses pemindahan tingkatan gigi perce-patan.
Gambar.Governor sentrifugal
  1. Transmisi Otomatis Dengan Kontrol Elektronik

Pada transmisi otomatis dengan kontrol elektronik perpindahan tinkat gigi percepatan dikontrol secara elektronik dengan jalan mengen-dalikan katup-katup solenoid oleh unit kontrol elektronika berdasarkan dari sinyal-sinyal masukan yang diberikan oleh sensor-sensor yang ada.


Gambar.Skema kontrol

Dengan melibatkan sensor-sen-sor yang ada dapat diatur tinkatan gigi percepatan yang paling sesuai dengan kondisi yang dihadapi, se-hingga tidak kehilangan perfor-mennya dan tetap pada penggunaan bahan bakar yang optimal.
Pemgendalian katup solenoid pada dasarnya adalah untuk menga-rahkan oli ATF ke unit hidrolik, jadi disini bukan sistem elektrik yang melakukan perubahan tingkatan gigi tetapi dibantu oleh tekanan hidrolik dari oli ATF. Sistem elektronik hanya sebagai pengendali saja.

Gambar.Katup solenoid
Pada sistem yang dikendalikan secara elektronik dapat dilakukan pengendalian yang lebih selektif dan dapat pula dilakukan pengendalian-pengendalian tambahan seperti mode ekonomi dan sport serta dapat diken-dalikan seperti transmisi manual se-suai keinginan pengemudi dengan adanya tombol + dan - .

Gambar.Karateristik fungsi tambahan tombol sport

Gambar.Tuas pemindah dengan tombol + dan –

B. Type Transmisi Otomatis Pada Mobil
Transmisi yang dipakai pada kendaraan mesin depan penggerak depan (front engine, front wheel drive (FF)) di buat lebih kecil dan efisien dibandingkan dengan transmisi yang dipakai pada mesin depan penggerak roda belakang (front engine, rear drive (FR)) karena langsung dihubungkan dengan mesin tanpa melewati poros propeller atau transmisi jenis ini disebut sebagai transaxle.
http://m-edukasi.net/online/2008/transmisiotomatis/images/03.jpg
Gambar 1. Transmisi otomatis tipe front engine, front wheel drive (FF)
dan front engine, rear drive (FR)
Mohon diperhatikan
Differensial pada transaxle menjadi satu dengan mekanisme pemindah tenaga yang lain berbeda dengan transmisi untuk penggerak roda belakang yang differensialnya terpisah dengan mekanisme yang lain.
Pada prinsipnya, kedua jenis transmisi tersebut mempunyai cara kerja yang sama baik unutk penggerak roda depan maupun untuk penggerak roda belakang.








C. Komponen Dan Fungsinya Transmisi Otomatis Pada Mobil

Komponen
Fungsi
O/D clutch
.Menghubungkan/memutuskan putaran O/D carrier dan O/D sun gear.
O/D Brake
.Menahan supaya O/D sun gear tidak berputar.
O/D one way clutch
.Menghubungkan O/D carrier dan O/D sun gear ketika diputar mesin.
Forward Clutch
.Menghubungkan / memutuskan  input shaft dengan intermediate shaft.
Direct Clutch
.Menghubungkan / memutuskan input shaft dengan front dan rear sun gear.
2nd Coast Brake
.Menahan / mengunci front  dan rear sun gear supaya tidak berputar.
2nd  Brake
.Menahan one way clutch 1 supaya front dan rear sun gear berputar berlawanan arah jarum jam.
Reverse Brake
.Menahan putaran front planetary carrier.
One way clutch 1
.Menahan front dan rear sun gear supaya tidak berputar berlawanan jarum jam ketika 2nd brake bekerja.
One way clutch 1
.Menahan supaya front planetary carrier berputar berlawanan jarum jam.


Gambar 6. One way clutch

Gambar 7. Potongan planetary gear dan clutch
Perpindahan gigi secara otomatis sesuai dengan posisi tuas, terdapat 6 posisi yaitu, posisi P, R, N, D, 2 dan L. sedangkan untuk Over Drive (O/D) menggunakan switch yang ada pada tuas transmisi, demikian pula untuk meningkatkan performa kerja transmisi khususnya waktu perpindahan gigi terdapat 2 posisi switch yang ditempatkan di console box, yaitu Power dan Normal (P/N) mode.
Gambar 9. Tuas transmisi otomatis
Posisi tuas transmisi sebagai berikut :
  • Posisi P (Park)
Pada posisi ini kendaraan tidak dapat bergerak (roda tidak dapat diputar) tetapi mesin dapat dihidupkan.Posisi ini digunakan untuk kendaraan yang diparkir, atau pada kendaraan untuk keperluan mesin dihidupkan tetapi kendaraan tidak dijalankan.
  • Posisi R (Reverse)
Posisi ini jadi digunakan untuk menggerakan kendaraan mundur.
  • Posisi N (Netral)
Pada posisi ini kendaraan tidak bergerak tetapi roda dapat diputar dan mesin dapat dihidupkan. Hanya posisi N dan P mesin dapat dihidupkan, posisi N transmisi pada posisi netral, biasanya digunakan untuk menghidupkan mesin sebelum kendaraan dijalankan atau ketika kendaraan berhenti sementara mesin hidup, seperti menunggu lampu hijau menyala di perempatan jalan.
  • Posisi D (Drive)
Posisi D, digunakan untuk menggerakkan kendaraan bergerak maju secara otomatis dan dapat mengatur posisi kerja dari gigi 1, 2 dan 3, atau sebaliknya, jika switch O/D di-posisikan ON, transmisi secara otomatis dapat mengatur kerja dari gigi 1, 2, 3 dan 4 atau sebaliknya. Posisi ini biasanya digunakan untuk jalan normal dan rata.
  • Posisi 2
Posisi ini digunakan untuk menggerakan kendaraan bergerak maju, tetapi secara otomatis hanya dapat mengatur posisi kerja dari gigi 1 ke gigi 2 atau sebaliknya, biasanya digunakan untuk jalanan menanjak  atau turunan tajam.
  • Posisi L
Posisi ini digunakan untuk menggerakan kendaraan bergerak maju tetapi hanya pada posisi gigi 1 saja, biasanya digunakan untuk jalanan yang sangat menanjak atau turunan yang sangat tajam yang tidak dapat dilakukan pada posisi gigi 2.
Gambar.Bagian utama dari transmisi otomatis
Transmisi otomatis secara garis besar di bagi menjadi 3 bagian yaitu:
1.Torque Converter
Gambar.potongan dari Torque converter
Torque converter di pasang pada input shaft dari transmisi otomatis. Pada bagian ini juga terdapat ring gear yang berfungsi sebagai gigi yang berhubungan dengan drive pinion motor starter untuk menghidupkan mesin.
Fungsi dari torque converter adalah :
a. Melipatgandakan momen yang dihasilkan oleh mesin
b.Menjadi kopling otomatis yang mengirimkan momen mesin menuju ketransmisi
c. Menyerap getaran mesin
d. Melembutkan putaran mesin
e. Sebagai pompa oli ke hidraulic control system
Torque converter berisi minyak transmisi otomatis dan mengirimkan tenaga putar dari mesin menuju ke transmisi. Komponen utama dari torque conveter adalah pump impeller, turbine runner, dan stator.
Bagian ini juga dihubungkan langsung dengan pompa oli yang selalu menghasilkan tekanan yang di pakai pada hidraulic control unit pada saat mesin dihidupkan. Pada saat kendaraan di derek dan roda yang berhubungan dengan drive axle, output shaft dan intermediate shaft serta bearing tidak terdapat pelumasan. Hal ini sangat berbahaya jika kendaraan di derek pada jarak yang jauh atau pada kecepatan yang cukup tinggi.
Lock up mechanism
Torque converter tidak selamanya menyalurkan tenaga putar ke transmisi dengan perbandingan 1 : 1, tapi ada sebagian kecil tenaga yaitu sekitar 4 - 5 % yang hilang. Hal ini tentunya sangat merugikan karena akan mengakibatkan pemborosan bahan bakar. Untuk menghindari hal tersebut di buat mekanisme lock up mechanism yang akan mengunci torquer converter ketika kendaraan berjalan pada kecepatan 37 mph atau 60 km/jam atau lebih tinggi. Ketika mekanisme ini bekerja maka tenaga putar dari mesin akan di salurkan 100 % menuju ke transmisi.
Gambar.Lock up mechanism
2.Planetary gear unit
Planetary gear unit dipakai untuk menaikan dan menurunkan momen mesin, menaikan dan menurunkan kecepatan kendaraan, di pakai untuk memundurkan kendaraan dan dipakai untuk bergerak maju. Pada dasarnya planetary gearunit dipakai mesin untuk menghasilkan tenaga dan menggerakan kendaraan dengan beban yang berat dengan tenaga yang ringan.
Hubungan antara kecepatan dan momen mesin dapat di jelaskan sebagai berikut:
Pada saat kendaraan berhenti dan mau berjalan dibutuhkan momen yang besar, dan pada posisi ini dibutuhkan gigi yang rendah untuk menggerakan kendaraan. Akan tetapi pada kecepatan yang tinggi maka akan dibutuhkan gigi yang tinggi dan momen yang kecil untuk menjaga laju kendaraan.


Berikut ini adalah bagian-bagian dari planetary gear unit :


Gambar.Planetary gear unit
Planetary gear memiliki tiga tipe gigi cincin, gigi pinion, sun gear dan planetary carrier.
Planetary carrier dihubungkan dengan poros tengah tiap gigi pinion dan membuat gigi pinion berputar. Gigi-gigi pada planetary carrierberhubungan satu sama lainnya.
Gigi pinion mempunyai prinsip kerja menyerupai planet yang berputar di sekeliling matahari. Oleh karena itu, disebut planetary carrier. Biasanya, planetary carrierdikombinasikan dalam unit planetary carrier.
Penggantian input pada planetary carrier, output, dan elemen tetap, memungkinkan untuk deselerasi, mundur, hubungan langsung dan akselerasi.


 3.Hydraulic control unit
            Bagian ini mengontrol kerja dari rem dan koling pada transmisi otomatis dengan tekanan yang diperoleh dari pompa oli. Unit pengendali hidrolik mempunyai 3 fungsi yaitu sebagai berikut:
1.Untuk membangkitkan/mengahasilkan tekanan hidrolik
            Pompa oli mempunyai fungsi membangkitkan tekanan hidrolik. Pompa oli membangkitkan tekanan hidrolik yang diperlukan untuk pengoperasian transaxle otomatis dengan menggerakkan tempat/kotak pengubah tenaga putar (mesin).
2.      Menyesuaikan tekanan hidrolik
Tekanan hidrolik yang ditekan oleh pompa oli disesuaikan dengan pentil pengatur utama. Juga pentil katup penghambat menghasilkan tekanan hidrolik yang sesuai dengan output mesin
3.         Mengalihkan (shift) roda gigi (untuk mengoperasikan kopling dan rem)
Ketika operasi kopling dan rem pada unit roda gigi planetary dialihkan (switch), roda gigi dialihkan. Jalur cairan diciptakan sesuai dengan posisi shift oleh pentil manual. Ketika kecepatan lendaraan meningkat, signal sikirimkan ke pentil solenoid dari mesin & ECT ECU (Electronic Control Unit). Pentil solenoid mengoperasikan setiap pentil shift ke pemindahan (shifting) roda gigi
Komponen-komponen utama dari unit kontrol hidrolik adalah sebagai berikut:
Ø  Pompa oli
Ø  Valve body
Ø  Primary regulator valve
Ø  Manual valve
Ø  Solenoid valve
Ø  Throttle valve
Gambar.Pompa oli
Gambar.potongan hydraulic control unit
Automatic Transmision Fluid
Minyak transmisi otomatis mempunyai kualitas yang tinggi dengan berbagai macam bahan tambah. Minyak transmisi otomatis ini di kontrol oleh katup hidrolik melalui transmisi ke gear shift dan melumasi komponen yang berputar dari transmisi otomatis.
Minyak transmisi otomatis harus memenuhi syarat-syarat sebagi berikut:
Ø  kekentalan yang sesuai
Ø  stabil terhadap panas dan oksidasi
Ø  tidak berbusa
Ø  koefisien gesek yang sesuai
Ø  berwarna
Ø  mempunyai bahan tambah yang lain

Minyak transmisi otomatis (ATF) mempunyai macam-macam viskositas dan koefisien geseknya. Hal ini perlu diketahui karena pengunaan miyka transmisi otomatis bisa berbeda tiap tipe kendaraan. Penggunaan miyak transmisi otomatis yang tidak benar tidak hanya menurunkan tenaga, tetapi juga bisa menyebabkan bunyi serta kerusakan yang lain.
Perhatikan Buku pedoman reparasi untuk mengetahui jenis minyak pelumas yang digunakan pada kendaraan.













D. Cara Kerja Transmisi Otomatis


blok diagramnya:
Poros Engkol >> Torque Converter >> Planetary Gear >> [Differential >> Drive Shaft >> Roda] pada penggerak roda belakang, bagian didalam kurung kotak diganti (As Kopel>> Gardan/Differential>>Roda)

1. Torque converter menggantikan kopling mekanikal pada transmisi manual. Lewat torque converter ini torsi disalurkan dengan mekanisme pompa dan turbin. Didalam torque converter terdapat 3 buah baling-baling. Yang pertama bekerja sebagai pompa yang dikopel langsung dengan mesin. Yang kedua "turbin" dikopel langsung dengan planetray gear. Dan yang terakhir adalah stator. Cara kerjanya, baling-baling yang terkopel pada mesin berputar untuk memompakan Oli transmisi didalam sebuah ruang tertutup. Lalu tekanan oli tersebut mendorong turbin layaknya air bertekanan yang menggerakkan pembangkit listrik tenaga air.
Konsep sederhananya, anda menyalakan sebuah kipas angin lalu tepat didepannya anda letakkan kipas angin yang lain dalam keadaan mati. Maka kipas angin yang mati tadi akan berputar seiring meningkatnya tekanan udara dari kipas angin yang menyala. Dari sistem tersebut, didapatkan peningkatan torsi pada turbin saat RPM pada mesin meningkat. Karena itulah perlengkapan ini disebut torque converter. Karena dia merubah putaran tinggi pada mesin menjadi torsi saat dibutuhkan. Namun alat ini jugalah yang menyebabkan konsumsi bahan bakar pada mobil matik meningkat.
Karena pompa dan turbin tidak akan pernah berputar 1:1 saat berbeban. Oleh karena itu, pada pengembangannya di aplikasikan perangkat "lock up" yang akan mengunci pompa dan turbin secara mekanis untuk mendapatkan efisiensi saat RPM tinggi dan overdrive. Lalu fungsi stator? Nah stator adalah pengembangan sistem dua baling-baling menjadi 3 baling-baling. Dimana baling diantara pompa dan turbin tidak bergerak. Oleh karena itu dinamakan stator (statis:diam) dan fungsinya adalah mengoptimalkan arah tekanan oli untuk menggerakkan turbin.

2. Planetary Gear Komponen ini menggantikan gigi-gigi rasio pada transmisi manual untuk merubah rasio putaran turbin terhadap roda. Fungsi utamanya sebetulnya tidaklah berbeda dengan fungsi transmisi manual yang biasa anda ganti-ganti dengan tuas persneling saat menjalankan mobil. Namun desain fisiknya yang berbeda cukup jauh. Pada planetary gear tidak ada dua barisan roda gigi yang saling berhubungan dengan rasio berbeda-beda. Tetapi sebuah roda gigi yang dikelilingi banyak roda gigi kecil dan ruman planetary yang memiliki gigi dibagian dalamnya. Untuk lebih jelas, carilah gambarnya di search engine. Karena cukup sulit menggambarkannya hanya dengan tulisan. Nah, disinilah Valve body bekerja. Valve body mengatur jalannya oli untuk merubah rasio planetary gear secara hidraulis.
Itulah cara kerja tranmisi yang banyak digunakan pada mobil-mobil yang bersliweran saat ini. Torque converter menyebabkan mobil serasa berjalan dengan kopling yang selip. Dan planetary gear menyebabkan mobil seperti memindahkan giginya secara otomatis.



Untuk transmisi CVT
kehadiran planetary gear digantikan dengan sabuk dan pulley yang diameter drivingnya dapat berubah-ubah sehingga rasio putaran dari dua buah pulley tersebut juga berubah-ubah. Dari sistem CVT yang diaplikasikan pada transmisi tersebut, didapatkan perpindahan percepatan (rasio) yang sangat halus. Seperti yang anda rasakan pada motor matic dengan CVT. Namun perubahan rasio CVT pada mobil tidaklah dilakukan secara mekanikal layaknya sepeda motor. Namun hal itu dilakukan secara elektro hidrolis yang diatur oleh ECU mobil. Sehingga perubahan rasio akan berubah sesuai dengan beban mobil, injakan pedal gas, putaran mesin dan lain sebagainya untuk mendapatkan tenaga yang optimal dan efisiensi bahan bakar yang tinggi.

Tambahan: untuk lebih mengenal karakteristik transmisi matik, berikut perilaku transmisi matik untuk setiap posisi tuasnya.

P: transmisi akan mengunci komponen yang terkopel langsung dengan roda. Hal ini memberikan efek seperti rem tangan, tetapi jangan hanya mengandalkan posisi ini untuk parkir dengan beban yang cukup berat. ex: tanjakan.

R: Gunakan posisi ini untuk berjalan kearah belakang(mundur).

N: di posisi ini, seluruh hubungan antara roda dan mesin dilepaskan. Dan tidak ada mekanisme pengunci roda layaknya posisi P. catatan: sangat disarankan untuk menggunakan posisi N dan aktifkan rem daripada P jika anda tidak bermaksud berhenti untuk meninggalkan mobil.

D: di gunakan posisi ini untuk menggunakan seluruh rasio dalam transmisi anda selama perjalanan. dibeberapa mobil juga terdapat tatanan D4, D3, L2, L1. Untuk merk toyota biasanya terdapat D,2,1 dengan tombol overdrive off pada tuasnya.


D3 atau O/D off : posisi ini akan membatasi perpindahan rasio hingga tingkat ke 3. Pada beberapa mobil toyota dengan tombol O/D off, tombol ini menonaktifkan gigi 4 dan menahan transmisi pada rasio tingkat 3. Gunakan posisi ini untuk melakukan overtakin.

E. Tips Perawatan Transmisi Otomatis
ü  Cara perawatan transmisi otomatis
sebenarnya tidaklah sulit seperti yang diperkirakan banyak orang. Perawatan transmisi otomatis yang dilakukan sama dengan perawatan yang dilakukan terhadap transmisi manual, berupa pengecekan terhadap kualitas minyak transmisi otomatis (hampir sama dengan minyak rem/Automatic Transmission Fluid dan bukan termasuk oli) dan kebocoran dari packing-packing yang ada. Malah sebenarnya lebih simple dari manual.
Namun kualitas minyak untuk transmisi otomatis ini bila dipergunakan sebagaimana semestinya dan tidak ada kebocoran, bisa tahan 50 ribu kilometer sampai 100 ribu kilometer. ”Malah sebenarnya bisa sampai 200 ribu kilometer, jelas Agus Susanto Kepala Bengkel PT Hyundai Mobil Indonesia.
Ia mengatakan, kopling transmisi otomatis ini lebih efisien karena berdaya tahan lama dari oli transmisi manual. Kopling ini terendam dalam bak minyak transmisi dan tidak bergesekan langsung. Berbeda dengan transmisi manual dengan sistem kopling kering yang bersentuhan dengan “roda gilaâ€
.
Kesan bahwa transmisi otomatis perawatannya sulit dan tidak semua bengkel yang bisa menanganinya adalah memang benar. Tetapi bukankah kalau kendaraan diperlakukan dengan benar dalam artian dirawat dengan baik, maka tidaklah mungkin transmisi akan mengalami kerusakan dengan sendirinya.
“Yang penting kalau kendaraan mengalami mogok dan ketika harus didorong, bagian roda mobil yang digerakkan transmisi tersebut harus diangkat. Tidak boleh menyentuh jalan ketika ditarik,
†jelas Kepala Bengkel PT Hyundai Mobil Indonesia tersebut.
Alasannya adalah, pada sistem transmisi otomatis, putaran mesin tersebut dipindahkan untuk memutar roda melalui minyak transmisi yang disemprotkan ke tiap gigi percepatan tersebut. Sedangkan bila ditarik yang terjadi adalah proses kebalikannya, di mana putaran roda akan menghasilkan tekanan kepada katup solenoid yang tertutup karena mesin tidak dihidupkan.
“Yang biasanya rusak adalah seal-seal, dan bila sudah parah pompa minyak transmisi tersebut yang akan rusak,â€
 jelas Agus.
Ø  Kerusakan Transmisi Tergantung Pemakaian :
Namun cepat atau tidaknya, baik transmisi otomatis maupun manual tersebut memang tergantung dari pemakaiannya. Bisa saja dari cara membawanya yang kasar, ataupun kendaraan membawa beban lebih.
Karena itu setiap pengemudi sewajarnya mengetahui fungsi-fungsi dari tiap huruf dan angka yang tertera dituas transmisi otomatis tersebut. Misalnya saja angka 1, berarti diperuntukkan bagi tanjakan dan turunan yang sangat curam. Kalau dipakai terus untuk jalur yang datar hanya akan memboroskan bahan bakar saja. Putaran mesin dan kecepatan yang diraih tidak seimbang.
Bila posisi tuas di 2, sebaiknya digunakan bila menghadapi jalan yang menanjak dan menurun yang tidak terlalu curam dan jangka waktu yang agak lama. Sedangkan untuk posisi D ini sama artinya dengan posisi gigi 3, yang diperuntukkan perjalanan dalam kota atau normal.
Untuk menghadapi jalur lurus yang dapat ditempuh dalam kecepatan tinggi serta dalam waktu yang lama dapat mengaktifkan tombol Over Drive (O/D). Gunanya untuk menurunkan putaran mesin yang otomatis dapat menurunkan konsumsi bahan bakar. Posisi ini sama saja dengan gigi 4.
Namun sekarang percepatan transmisi otomatis ini tidak hanya sampai 4 saja, sudah sampai 5 percepatan. Gigi 1, 2, 3, D dan Over Drive. Posisi lain yang harus diketahui kegunaannya adalah posisi N, P dan R. Posisi N ini dapat digunakan ketika berada di lampu merah. Dari posisi D sebaiknya digeser keposisi N. Sedangkan posisi P ini digunakan ketika memarkirkan kendaraan. R digunakan untuk mundur.
Pada saat ini sebagaian besar produsen kendaraan mengunakan dan mengembangkan Continuously Variable Transmission (CVT) dengan ditandai peningkatan kualitas CVT secara terus menerus. Prinsip kerja CVT adalah memanfaatkan perubahan diameter antara puli penggerak (driver pulley) dan puli yang digerakkan (driven pulley), selain melakukan variasi rasio (i) transmisi menjadi dapat tak terbatas. Sistem ini memiliki beberapa keunggulan desain lebih transmisi otomatis (AT) yaitu :
  1. Kontruksi lebih sederhana dan proses manufaktur yang lebih mudah.
  2. Akselerasi halus tanpa sentakan atau pukulan dari mengubah gears.
  3. Efisiensi bahan bakar yang lebih baik karena pada CVT tidak adanya daya yang terbuang waktu perpindahan gigi seperti yang terjadi pada transmisi otomatis.
Namun kelemahan sistem CVT dibandingkan AT yaitu : kemampuan beltnya yang menurun drastis kalau dipakai untuk kendaraan dengan Daya diatas 135 HP, karena beltnya yang akan mengendur bila terlalu panas akibat gesekan dalam pemakaian yang lama, sangat tidak cocok untuk performance car karena tenaga tidak responsif, kalah responsif oleh matic biasa sekalipun. Pada matic sederhana pada saat di-kickdown langsung turun gigi.
Sistem CVT memilik beberapa type penggerak ratio yaitu : Variablediameter Pulley (VDP), yaitu sistem CVT secara sederhana terdapat dua V-belt puli yang tegak lurus untuk memisahkan antar puli dari axes rotasi, dengan Vsabuk berjalan di antara mereka. Ratio gear diubah agar bergerak pada dua bagian dari satu puli penggerak dan dua bagian lainnya dari satu puli digerakan. Belt ratarata berbentuk V dimana bagian ikat pinggang dibentuk salid (T) agar dapat menahan tekanan, ini akan menyebabkan sabuk untuk naik lebih kencang sedangkan yang lain lebih longgar agar dapat melakukan perubahan yang efektif. Jarak antara pulleys tidak berubah, namum belt mampu mengubah ratio gear sehingga kedua pulleys harus disesuaikan (satu lebih besar, yang lainnya kecil) sekaligus untuk mempertahankan jumlah tepat ketegangan pada sabuk, seperti gambar berikut ini;
 
Gambar.Continuously Variable Pulley (CVP)

Toroidal atau roller berbasis CVT, dibuat dari disk dan roller yang berfungsi mentransfer daya antara disk. Disk digambarkan sebagai dua bagian yang berbentuk kerucut (point-to-point) sehingga sisi disk pada dua bagian dapat mengisi pusat lubang yang torus. Satu disk sebagai inputan dan yang kedua adalah output (tidak ada kontak antar disk). Sistem secara drastis fungsinya berbeda, dengan semua komponen yang sejalan dengan roda/roller dan system katrol menghasilkan seperti prinsip CVT.


Berikut adalah cara kerjanya:
Ø  Satu disk terhubung ke mesin (katrol penggerak)
Ø  Disk lain terhubung ke batang (kontrol digerakan).
Ø   Rollers atau roda, terletak antara disc sebagai belt (pada CVP), yang digerakan dengan transmisi listrik dari satu disk ke yang lain.
Sehingga dapat memutar roda dua sepanjang sumbu axis dan berputar di sekeliling sumbu horisontal serta memindahkan daya di luar atau di sekeliling sumbu vertikal, yang memungkinkan roda kontak dengan disc. Ketika roda berada
dalam kontak dengan disk mengemudi di dekat pusat, mereka harus menghubungi driven disc dekat rim, sehingga pengurangan kecepatan dan peningkatan torque. Kontak roda penggerak disk dekat rim maka harus menghubungi driven disc dekat pusat, sehingga peningkatan kecepatan dan penurunan torque. Gerakan yang sederhana dari roda, dapat secara bertahap akan mengubah gear ratio, menjadi rasio perubahan.
Gambar.Continuously Variable Transmission Toroidal
Hydrostatic CVT adalah salah satu jenis CVT, menggunakan variabelkapasitas pompa ke bervariasi cairan mengalir masuk hydrostatic aktuator. Dalam transmisi jenis ini pemutaran gerakan mesin pompa menerapkan sistem pengerak hydrostatic dimana pompa yang mengkonversi pemutaran gerakan menjadi aliran cairan. Kemudian, dengan motor hydrostatic terletak di samping menggerakkan, cairan yang mengalir kemudian dikonvert kembali ke dalam gerakan pemutaran yang ditunjukkan pada gambar.
Gambar.Continuously Variable Transmission Hydraulic
Dari permasalahan yang ditimbulkan dari beberapa CVT maka dalam tesis ini menerangkan sistem terbaru dengan menggunakan elektrikal atau yang disebut dengan Electrical Continuously Variable Transmission (ECVT). Sistem diharapkan mampu mengurangi persoalan slip, pengendalian ratio secara optimal, dan juga untuk memungkinkan meningkatkannya performance system. ECVT menggunakan suatu penggerak ratio dengan menekan belt yang diatur oleh elektrik motor untuk mengendalikan gerakan Fork Push Belt dengan dikombinasikan dengan suatu lead screw untuk menggerakan mekanisme sehingga Fork Push Belt dapat mengendalikan ratio puli CVT. Manfaat lain dari sistem ini diharapkan juga memperbaiki bahan bakar menjadi lebih ekonomi.
Perbaikan sistem ini meliputi terjadi perubahan akibat pengaruh ratio, slip, dengan efisiensi bahan bakar untuk meningkatkan torsi/daya pada CVT dari kendaraan yang diteliti. Dengan meminimalkan kerugian-kerugian dari CVT yang ada sehingga efisiensi transmisi dan daya mesin yang dihasilkan dapat dicapai.



F. Kelebihan Menggunakan Transmisi Otomatis
Ada banyak kelebihan pada transmisi otomatik.
  1. TO mem­berikan kenyamanan luar biasa mengatasi rasa penat ketika berada dijalan macet. Mobil bisa berjalan mulus walaupun harus maju dan berhenti secara mendadak, karena tak perlu menginjak kopling. Hanya menekan pedal rem atau pedal gas mobil dapat maju dan berhenti dengan mulus. Dengan menggunakan TO pengemudi juga tidak terlalu lelah Selain kaki kiri tidak perlu bekerja maka tangan kiripun tidak selalu digunakan seperi pada transmisi manual.
  2. Keuntungan lain dari TO adalah awetnya plat kopling. Karena tidak ditekan dengan kaki melaingkan secara otomatik oleh tekanan oli maka umumnya plat koplingbnya lebih lama masa pakai. Kalau tidak ada masalah dengan oli, seperti kehabisan oli atau terlambat mengganti oli maka plat kopling tidak perlu diganti.
  3.  Perpindahan gigi terjadi secara otomatis dan lembut.
  4.  Mengurangi beban mesin karena mesin dan pemindah daya dihubungkan melalui fluida secara hidraulis (torque converter).












BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :
Cepat atau tidaknya kerusakan pada transmisi otomatis tergantung dari
pemakaiannya sendiri. Mungkin saja berawal dari cara berkendara yang kasar, ataupun kendaraan yang membawa beban lebih. Bila kendaraan diperlakukan dengan benar dan memang seharusnya dirawat dengan baik, maka kecil kemungkinan transmisi akan mengalami kerusakan dengan sendirinya.
Transmisi otomatis ternyata lebih mudah dalam penggunaan atau pengoperasiannya. Maka dari itu masyarakat lebih suka menggunakan transmisi otomatis dari pada transmisi manual

SARAN :
Ø  Kita harus menggali informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada dan mampu memanfaatkanya dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan sehari-hari untuk memperluas pengetahuan kita.
Ø  Sesuaikan pelumas yang digunakan dengan spesifikasi yang disyaratkan pabrikan kendaraan tersebut. Biasanya kemasan pelumas khusus transmisi ditandai dengan tulisan ATF (Automatic Transmission Fluid).









DAFTAR PUSTAKA

      di akses pada tgl 27 agustus 2012 jam 10.44WIB
      di akses pada tgl 27 agustus 2012 jam 10.56WIB
di akses pada tgl 27 agustus 2012 jam 11.06WIB
di akses pada tgl 24 agustus 2012 jam 11.07WIB
di akses pada tgl 20 agustus 2012 jam 08.07WIB
di akses pada tgl 22 agustus 2012 jam16.07WIB